Pada suatu Hari (Part 4)



"Maaf aku menatapmu seperti itu, aku hanya merasa familiar dengan wajahmu." ujar Kesha, aku hanya mengangukkan kepala.

"Sepertinya kamu belum sadar ya siapa dirimu ? Yah semua orang disini juga awalnya seperti itu. Mereka bingung, wajah lelah dan tak tahu apa-apa. Persis seperti kamu saat ini. Dulu Alya juga sepertimu, tapi ternyata dia pendiam permanen seperti yang kau lihat sendiri" ujar Kesha lagi cerewet, sambil menunjuk Alya yang sejak tadi hanya diam dibelakang meja kasir. Lebih dari yang ku ingat.

"Kau ini tokoh cerita, sama sepertiku. Bahkan semua orang disini! Kita adalah tokoh-tokoh cerita yang dibuat penulis kita. Namun ia belum sempat menyelesaikan cerita tentang kita. Maka dari itu kita disini, Samasta. Tempat para tokoh yang menunggu penulis kita menyelesaikan cerita." Aku terbatuk mendengar penjelasan Kesha barusan, dan menyemburkan teh hangat yang baru saja kuminum. Kesha dengan sigap dapat menghindar dari semburanku.

"Apaa...?" tanyaku tidak percaya, apa benar tempat seperti itu ada?? atau ini hanya mimpi saja? aku menampar-nampar kedua pipiku hingga terasa sakit sekali, pasti kedua pipiku merah sekali saat ini. 

"Hei, berhenti. Kau bisa melukai dirimu sendiri kalau begitu. Kau harus menerima kenyataan, bahwa kau hanya tokoh cerita. Aku pun disini sudah lumayan lama, bahkan aku sampai tida bisa menghitung harinya. Percayalah, disini tidak terlalu buruk." Ujar Kesha menenangkanku.

Berarti Kesha adalah Kesha Ardenia Putri salah satu tokoh ceritaku. Kesha adalah duplikasi orang yang kucintai di dunia nyata. dan kisahnya memang belum aku tamatkan, karena aku tak bisa menulis lagi saat ini. Dan berarti Alya, adalah salah satu tokoh yang berbahaya disini. dia bisa kumat kapan saja. Berarti Kesha dalam bahaya kalau seperti itu.


Comments

Post a Comment