Yuganta Part 4 - Darsa



“Ada apa Darsa” Mama, papa dan ketiga adikku sudah mengelilingi di tempat tidur. Semuanya menatap dengan takut dan bingung. Apalagi mama, ia tampak cemas. Aku masih belum bisa berbicara, dadaku naik turun karena nafasku memburu seperti sehabis berlari marathon. Peluhku membanjiri wajah dan tubuhku. Mama memeluk tubuhku segera begitu melihat tubuhku gemetar.

“Itu hanya mimpi, sayang. Tidurlah kembal” bisisknya sambil mengelu anak rambutku. Ketiga adikku sudah kembali ke kamar sebelah dikomandai papa. Pasti aku tadi mengigau dan berteriak sangat keras lagi. Ya memang itu hanya mimpi buruk, alias mimpi buruk lainnya malam ini.

Aku masih belum bisa berbicara, aku masih merasakan mulutku penuh dengan air. Dan dadaku serasa  terbakar karena tenggelam. Ya aku baru saja bermimpi sebuah gelombang air besar datang menerjang kota kami. Bukan hanya sekali, tapi dua kali. Sehingga aku dan keluargaku tercerai-berai karena gelombang susulan itu. Padahal kami sudah saling berpegangan. Setelah melihatku tenang, mama mengecup dahiku dan meninggalkanku sendirian, aku berpura-pura memejamkan mataku sampai Mama mentup kembali pintunya.

Begitu aku mendengar langkah Mama yang sudah jauh, aku kembali membuka mata. Menerawang langit-langit kamar. Mengulang kalimat ‘ini hanya mimpi’ berkali-kali, tapi hatiku terus saja gelisah. Kali ini terasa sangat nyata. Terlebih lagi, aku dan keluargaku ada semua dalam mimpi kali ini.

Perlahan aku mendekati meja belajar di seberang tempat tidur. Mengambil buku sketsa ukuran A4 dari dalam tasku. Dengan cepat tanganku menggambar kejadian dalam mimpiku tadi. Aku dan keluargaku sedang berada di tengah kota, tiba-tiba sebuah gelombang besar yang perlahan tapi pasti menerjang gedung-gedung atau apapun yang menghalangi di depannya. Aku masih bisa mendengar riuh suara gelombang yang menabrak sesuatudengan ganas dan teriakan panik orang-orang disana. Mereka lari berhamburan menghindari gelombang di belakang mereka.

Aku, Mama dan Papa masing-masing menggendong adik-adikku, saling berpelukan seketika karena kami sadar berlari hanya membuang waktu dan sia-sia. Selesai menggambar kejadian tersebut, aku menempelnya di dinding bersamaan dengan gambar lainnya. Gambar kejadian mengerikan lainnya yang sering menghantuiku saat aku tertidur. Seperti gempa bumi yang dahsyat sehingga meluluh lantakkan semua yang ada menjadi rata dengan tanah. Kebakaran besar, angin puting beliung yang menerbangkan segalanya.

Dan yang paling menakutkan adalah saat langit terbelah, gunung-gunung berhamburan seperti kapas. Itu mimpi yang membuatku mengompol di perkemahan tahun lalu. Padahal umurku saat itu sudah lima belas tahun. Dan akibatnya, aku di katai si tukang ompol sampai saat ini. Darsa si tukang ngompol!


Comments

  1. Gaya cerita bang ian memang selalu keren

    ReplyDelete
  2. Buahahahaha....ngocol endingnya πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. Waduh, mama khawatir karena harus jemur kasur ya? πŸ˜„

    Keren, bang. 😊

    Salam kenal,
    shintadwijiarti.blogspot.com

    ReplyDelete
  5. Endingnya... Diluar dugaan πŸ˜‚

    ReplyDelete
  6. itu kelainan ya? apa namanya yg masih ngompol kayak gitu?

    ReplyDelete

Post a Comment